Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2016

Pelajaran dari Polemik Aksara Jawa bagi Dunia Literasi di Indramayu Kota Budaya



Aksara jawa 
Sumber: http://sus-mita.blogspot.co.id/2015/12/aksara-jawa.html


Baru-baru ini berita mengenai polemik aksara jawa sempat tersiar kembali. Di situ disebutkan mengenai awal kemunculan aksara tersebut sampai dengan artinya yang buruk dan ganjil. Kemunculan aksara jawa dimulai sejak kepemimpinan Amangkurat II, sosok raja Kasunanan Kartasura yang dianggap anteknya Belanda. Oleh karena itu, kemunculan aksara jawa ini juga diduga menyimpan motif-motif tertentu (yang menguntungkan penjajah). Terlepas dari benar atau tidaknya, ini sungguh mengejutkan mengingat aksara jawa juga sempat diajarkan di sekolah-sekolah. Saya pun sempat mengenyam pelajaran tersebut.

Aksara jawa sendiri merupakan salah satu alat untuk menelusuri jejak sejarah di Indramayu, misalnya melalui teks babad, tembang macapat, “naskah jejer”, dan teks tarekat atau tauhid yang banyak memuat bahasa arab. Ia bukanlah satu-satunya aksara yang digunakan di Indramayu zaman dulu, masih ada aksara lain seperti aksara pegon dan latin. Menurut data sejarah, di wilayah Jawa Barat terdapat tujuh aksara dan bahasa yang pernah digunakan. Ketujuh aksara (huruf) yang dimaksud adalah aksara-aksara Pallawa, Jawa Kuno, Sunda kuno, carakan/Jawa Barat, cacarakan/Jawa, pegon/Arab, dan latin; sedang bahasanya adalah sansekerta, Melayu kuno, Jawa kuno, Sunda kuno, Jawa pertengahan, Arab, dan Sunda.

 
 Naskah kuno Indramayu dan draft terjemahannya
Sumber: bloggermangga.com

Aksara jawa banyak terdapat di dalam naskah kuno, sedang mayoritas dari naskah kuno Indramayu dimiliki oleh para dalang. Mereka biasa pentas menggunakan teks yang umumnya bertuliskan aksara jawa. Meski demikian, masih banyak keluarga pewaris naskah tersebut yang tidak mengetahui arti dari tulisan ini. Masih banyak yang menghubungkannya dengan tradisi-tradisi klenik, semacam menggunakannya sebagai jimat atau menyimpannya di tempat-tempat keramat. 

Sadar atau tidak bangsa Indonesia semakin dijauhkan dengan bahasa dan aksaranya sendiri. Padahal, penguasaan ini sangat penting. Buya Hamka pun mengakuinya. Akhirnya, banyak hal yang menyangkut sejarah Indonesia harus ditanyakan kepada ahli-ahli dari luar negeri. Lucu, mengapa orang luar negeri yang lebih tahu dari kita tentang sejarah kita sendiri? Faktanya, menurut Kepala Perpustakaan Proklamator Indonesia, Soeyatno, pada konferensi pers acara Workshop Nasional, Pameran Kitab dan Naskah Jawa Klasik Nusantara dan Kunjungan Peradaban, Rabu (16/9/15) di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB), sebanyak kurang lebih 26 ribu naskah jawa klasik, ternyata tidak dimiliki oleh Indonesia. Naskah tersebut tersebar di negara luar, khususnya di Inggris dan Belanda. Padahal, naskah tersebut umumnya berisi tembang macapat, kisah sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan bahkan pendidikan. Bahkan saat ini pun masih banyak naskah jawa klasik yang belum diketahui isinya karena orang yang mampu menerjemahkan aksara jawa kuno masih sangat minim. 


Ki Tarka
Sumber: Bloggermangga.com


Kasus lain yang penting dicermati dari sejarah misalnya terdapat pada peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965. Sebuah artikel yang saya baca sempat memunculkan 5 versi dalang di baliknya. Atau berbagai kasus terkait budaya kita yang berkali-kali coba diakui oleh bangsa lain. Pada kasus naskah, naskah Laga Ligo dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan misalnya, baru setengah isinya saja yang diketahui. Naskah tersebut kini hanya disimpan di Belanda karena di sini tidak ada tenaga ahli penerjemah yang dapat mengartikan sekaligus merawatnya dengan baik.

Sangat jelas bukan, ketidakpahaman akan aksara dan bahasa asli bangsa Indonesia di masa lalu bisa menyebabkan kekaburan sejarah. Sejarah berpotensi diputarbalikkan, diterjemahkan secara tidak tepat (dikarang), atau dicari-cari kelemahannya. 

Museum Bandar Cimanuk
Sumber: http://log.viva.co.id/news/read/752958-mengenal-sejarah-indramayu-dari-museum-bandar-cimanuk


Saya meyakini bahwa sejarah adalah milik penguasa. Penguasalah yang kemungkinan besar akan menuliskan/mencatatkan sejarah dengan versinya sendiri. Atau setidaknya, sejarah adalah milik orang yang mau mencatatkannya. 

Memang, di Indramayu sudah ada Ki Tarka (Tarka Sutarahardja) yang peduli akan aksara jawa. Selain ahli dalam menerjemahkan aksara tersebut, ia juga mendirikan sanggar aksara jawa Indramayu di rumahnya, di Desa Cikedung Lor, Indramayu. Walau di sini pun masih ada kendala, naskah-naskah terjemahan yang ditulisnya belum bisa dipublikasikan luas karena terkendala dengan biaya percetakan dan penerbitan. Di Indramayu pun sudah ada Museum Bandar Cimanuk, museum yang pembangunannya digagas oleh 15 orang termasuk Ki Tarka. Di dalam museum yang terletak di jalan Veteran No. 3 ini terdapat aneka benda yang mampu mengungkap tentang sejarah keberadaan Indramayu, sejarah sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan serta seni dan budaya di kabupaten Indramayu; termasuk beberapa buku bertuliskan huruf jawa. Namun, jika pada sejarah yang dipelajari terdapat kekaburan, itu berarti ada “lubang” di dalamnya. Ini adalah gambaran dari sejarah masa lalu dan hubungannya dengan masa kini, yaitu ada potensi kekaburan sejarah, kurang mampunya merawat benda-benda bersejarah, sedikitnya orang yang mampu menerjemahkan sejarah, dan kurangnya minat generasi masa kini terhadap sejarah.

Bung Karno pernah mengatakan tentang JAS MERAH (Jangan Melupakan Sejarah). “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” Begitu ucap presiden pertama RI tersebut. Sekarang mari kita lihat hubungan antara masa kini dan masa depan! Maksud saya adalah di masa depan, masa tempat kita berada saat ini adalah sejarah. Nah, bagaimana agar kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan di masa lalu bisa kita antisipasi?

Etalase buku-buku tempo dulu dan bandring di Museum Bandar Cimanuk
Sumber: Bloggermangga.com

Saat ini, budaya literasi sudah lebih baik dari masa lalu. Di Indramayu pun sudah terlihat perkembangan yang demikian. Di antaranya bisa dilihat dari hal-hal berikut:

1.    Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dilaksanakan dengan menggalakkan budaya membaca buku nonfiksi 15 menit sebelum pelajaran sekolah dimulai, 

2.    Munculnya komunitas peduli minat baca, misalnya komunitas Ngampar Boekoe,

3.    Munculnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM), misalnya TBM. Lentera Hati Karangsong; yaitu dengan mendirikan perpustakaan apung Pantai Mutiara Hijau di Desa Karangsong.

4.    Program Perpuseru untuk 8 desa dan 5 taman bacaan di Indramayu
Program Perpuseru ini merupakan upaya untuk mengembangkan perpustakaan umum menjadi pusat belajar masyarakat yang memberikan pelayanan berbasis teknologi, informasi dan komunikasi untuk masyarakat. Program ini dilaksanakan melalui kerjasama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia.

5.    Diraihnya penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka tahun 2016 dengan kategori Birokrat yang peduli terhadap pengembangan perpustakaan dan kegemaran membaca dari Perpustakaan Nasional RI oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah,

6.    Diraihnya Juara 2 tingkat Nasional dalam lomba perpustakaan desa oleh Kabupaten Indramayu,

7.    Diraihnya juara perpustakaan sekolah tingkat provinsi Jawa Barat.

Perpustakaan apung
Sumber: http://www.indramayu.top/2016/09/tjimanoek-sign-taman-kota-kali-cimanuk.html


Kesemua ini diharapkan berpengaruh terhadap meningkatnya minat baca masyarakat Indramayu. Dalam jangka panjang, harapannya kebiasaan-kebiasaan positif ini membuat Indramayu yang ada saat ini akan menjadi sejarah yang baik di masa depan. Selain itu, generasi-generasi di masa depan sudah terbiasa untuk membaca sehingga diharapkan keengganan dan ketidakmampuan dalam mempelajari sejarah akan berkurang. Dari segi tulis pun, sudah ada komunitas menulis di Indramayu, misalnya blogger Mangga (blogger Indramayu). Akan tetapi, masih ada “lubang” di sini. Untuk mencegah adanya potensi kekaburan sejarah, masing-masing penulis tersebut harus dibiasakan dan dilatih untuk selalu menulis dengan baik, benar, dan didukung oleh bukti-bukti yang kuat. Ini adalah salah satu cara untuk memelihara budaya kita dan meninggalkan jejak-jejak yang mudah bagi penelusuran sejarah oleh generasi yang akan datang. 

Di dalam setiap peristiwa sebaiknya kita berusaha mengambil hikmahnya, termasuk peristiwa polemik aksara jawa ini. Dan apa yang saya utarakan di atas adalah sedikit upaya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan sejarah dan budaya kita, khususnya yang ada di Indramayu.



Sumber:

http://www.indramayukab.go.id/component/content/article/40-seputar-indramayu/959-bupati-indramayu-raih-nugra-jasadarma-pustaloka.html
https://www.indramayunews.com/budaya-baca-harus-menjadi-unggulan-indramayu/
http://ciumanuk.com/2016/03/program-perpuseru-untuk-8-desa-dan-5-taman-bacaan-di-indramayu/
http://info.kuncimaju.net/index.php/2016/07/17/mengunjungi-sanggar-aksara-jawa-di-cikedung-indramayu/
http://www.malang-post.com/pendidikan/aksara-jawa-dan-tembang-macapat-warisan-leluhur-yang-makin-terlupakan

Selasa, 29 Maret 2016

Akses Pengetahuan Gratis di Perpustakaan Unsyiah, Mendukung Indonesia Menjadi Lebih Baik



Perpustakaan dan Kesan “Angker”



Perpustakaan Unsyiah
Sumber: http://openaccess.unsyiah.ac.id/

Selama ini perpustakaan terkesan seperti suatu bangunan yang “angker” bagi banyak orang. Suasana yang kaku, “dingin”, banyak aturan, kuno/tidak gaul, dan membosankan seringkali melekat pada citra perpustakaan. Apalagi didukung dengan minat baca masyarakat Indonesia yang berkisar di angka 0,01, terlalu rendah dibandingkan dengan negara-negara maju yang berada di angka 0,45-0,62. Fakta ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagaimana masa depan Indonesia untuk ke depannya. Minat bacanya saja sudah rendah, pasti mereka akan malas untuk ke perpustakaan. Jangan dipersulit lagi dengan sesuatu yang membuat mereka semakin malas dan jauh dari perpustakaan! 



Program pengenalan perpustakaan
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/33/

Namun, Anda akan membuang pikiran tersebut jauh-jauh jika telah berkunjung ke perpustakaan Unsyiah (Unsyiah Library). Perpustakaan ini sangat jauh dari kesan “angker”. Dari hari ke hari pengunjungnya semakin meningkat, bahkan hampir setiap hari banyak di antara mereka yang rela datang sangat pagi untuk menunggu perpustakaan dibuka. Ribuan pengunjung memadati perpustakaan setiap harinya, dan jumlah ini akan semakin meningkat saat memasuki UAS. Antusiasmenya sangat tinggi tanpa bisa terbendung oleh hujan sekalipun, berbeda dengan tahun lalu. Begitu tingginya antusiasme ini sampai-sampai jam buka perpustakaan harus ditambah hingga malam dan juga buka di hari Sabtu dan Minggu, di saat perpustakaan lain pada umumnya tutup. Jangan salah, di malam hari pun tetap ramai pengunjungnya! Barangkali, perpustakaan ini merupakan satu-satunya perpustakaan universitas yang buka di hari libur. Tak perlu khawatir dengan petugas karena ada banyak sukarelawan yang bersedia untuk membantu dengan enjoy-nya. Iya, di perpustakaan, yang notabene membosankan bagi banyak orang mereka bisa menjadi sukarelawan dengan bahagia.


Jam buka perpustakaan
Sumber: Http://uilis.unsyiah.ac.id/opac/index.php?p=libinfo

Ramainya perpustakaan Unsyiah tidak terlepas dari gencarnya sosialisasi dari pihak perpustakaan plus didukung dengan inovasi dan konsep yang lebih menarik. Adanya Program Pengenalan Perpustakaan bagi mahasiswa baru sejak awal masuk, adanya kuliah-kuliah umum dan kelas literasi informasi yang dapat diikuti oleh mahasiswa Univesitas lain dan masyarakat umum, serta adanya majalah Librisyiana keluaran Pustaka Unsyiah, kesemuanya ini menjadi penghubung antara pihak perpustakaan dengan pengunjung internal maupun eksternal perpustakaan Unsyiah di dalam mengenalkan perpustakaan beserta cara pemakaian sarana dan prasarana yang ada di sana.


Perpustakaan Unsyiah Tak Seperti Perpustakaan pada Umumnya

Banyak orang/institusi mengunjungi perpustakaan Unsyiah untuk belajar, misalnya siswa dari Malaysia, Pusdiklat Geologi Bandung, dan Siswa SMA Negeri 5 Banda Aceh. Ada hal menarik apakah gerangan? Ternyata rata-rata dari mereka sangat terkesan dengan adanya RFID (Radio Frequency Identification), yaitu suatu teknologi yang memungkinkan pengunjung tidak perlu mengantri terlalu lama untuk dapat meminjam/mengembalikan buku. RFID tersebut melahirkan sebuah pelayanan peminjaman mandiri (Self Loan Station/Anjungan Peminjaman Mandiri) dan pengembalian mandiri (Self Return Station/Anjungan Pengembalian Mandiri) yang dilakukan oleh peminjam secara individu.



Anjungan Peminjaman Mandiri
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/20/

Memasuki perpustakaan Unsyiah Anda akan mendapati ruangan yang luas, bersih, dan nyaman, kemudian check-in dengan menunjukkan KTM, KTA, atau KTP. Di sana tidak ada pelayanan locker, namun hati-hati karena jika salah menggunakan locker Anda akan dikenai denda hingga ratusan ribu rupiah.


Check in
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/31/
 


Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/26/

Ingin membawa minuman dan makanan ringan? Boleh saja. Pihak perpustakaan Unsyiah sengaja mengambil kebijakan yang berbeda dari perpustakaan lain ini dengan tujuan untuk menunjang nutrisi otak pengunjung saat berpikir atau belajar. Asalkan bukan makanan beraroma, berminyak, berkuah, ber-saus yang beraroma (mie aceh, mie instan), kopi, dan lain-lain, makanan dan minuman lain boleh dibawa masuk ke dalam perpustakaan. Jika sedang tidak membawa makanan sendiri pun Anda tinggal mengunjungi kantin yang juga disediakan di sana.



Pengunjung memakai hanbook di Korea corner
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/19/

Sebagai laboratorium dari Unsyiah, perpustakaan Unsyiah berfungsi sebagai wadah untuk belajar, berkreasi, berinovasi, sekaligus bersosialisasi. Sesuai dengan fungsinya maka di sana tak hanya ada ruangan untuk membaca (baik duduk di kursi atau lesehan), melainkan  juga ruangan lain. Ruangan lain tersebut misalnya ruang seminar/workshop, ruang diskusi, fasilitas olahraga tenis meja, kantin, Library Gift Shop, serta Corner. Corner di sini adalah tempat untuk mempelajari kebudayaan luar, ada Korea Corner dan juga Indian Corner. Di Korea Corner pengunjung bisa mempelajari budaya dan pernak-pernik Korea, mulai dari poster, baju tradisional, alat musik, serta buku-buku berbahasa Korea. Baju tradisional Korea-nya (Hanbook) tersedia dalam ukuran anak-anak hingga dewasa sehingga pengunjung dari berbagai usia bisa memakainya dan sekaligus berfoto di sana. Di Indian Corner juga serupa, pengunjung dapat menemukan buku dan jurnal maupun menonton tarian India. Kemudian ada juga Library Gift Shop yaitu tempat yang dikhususkan bagi mahasiswa Unsyiah untuk memperkenalkan produk hasil karyanya. 



Relax and Easy
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/4/

Tak hanya ruangannya yang bermacam-macam, tetapi program/kegiatan di Pustaka Unsyiah ini juga. Ada acara Relax and Easy (sebagai wadah untuk menampung kreatifitas mahasiswa Unsyiah), pemilihan duta baca, penghargaan perpustakaan Unsyiah award, pameran  buku karya dosen Unsyiah, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan inilah yang rupanya mampu menarik perhatian pengunjung untuk datang ke sana.

Buku Juga Tetap Menjadi Tujuan

Kendati banyak kegiatan dan acara lain yang diselenggarakan di gedung yang sama, tetapi pengunjung tidak hanya datang untuk acara tersebut. Buku juga tetap menjadi tujuan. Terbukti bahwa dalam 4 tahun terakhir telah terjadi peningkatan sebesar 2 sampai 3 kali dalam jumlah pengunjung, jumlah buku yang dipinjam, dan jumlah anggota yang meminjam. Selain itu, buku yang dipinjam pun sudah lebih bervariasi dan tidak itu-itu saja.

Knowledge is Free at Unsyiah Library

Sejak didirikan tahun 1970, memiliki gedung sendiri tahun 1994, hingga akhirnya menjadi Pustaka Unsyiah yang sekarang ini di sana terdapat koleksi sebanyak 75.114 judul atau 136.925 eksemplar. Koleksi tersebut tersebar dalam berbagai jenis, meliputi buku teks (termasuk fiksi untuk Material Sciences), terbitan berkala (jurnal), laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, koran, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM, CD, VCD, DVD, dan dokumentasi. Koleksinya pun tidak hanya berbentuk cetak, tetapi juga bentuk online seperti skripsi online serta e-book dan e-journal pada beberapa penerbit internasional. ScienceDirect dan Springer Links sebagai database jurnal terbesar di dunia juga termasuk di dalamnya.



Literature Search Service (LSS)
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/3/

Jika Anda sudah terdaftar sebagai anggota perpustakaan koleksi–koleksi yang ada di sana bisa Anda pinjam dan jurnal-jurnal online pun bisa diakses secara gratis dengan menggunakan layanan internet yang telah mereka sediakan. Apabila menemui kesulitan sehubungan dengan pencarian literatur manfaatkan saja layanan LSS (Literature Search Service). Ada 2 cara yang bisa digunakan untuk mengaksesnya, yaitu melalui Unsyiah Integrated Library Information System/UILIS (www.uilis.unsyiah.ac.id) atau Online Public Access Catalog (OPAC). Setelah memasuki link LSS, Anda akan menemukan koleksi-koleksi unggulan seperti Electronic Thesis and Disertation, artikel jurnal, laporan penelitian, artikel jurnal perpustakaan Unsyiah, dan resource of excellence.   
Bagi yang ingin mengakses repository dari dalam dan luar negeri Direktori Open Access Perpustakaan Unsyiah (http://openaccess.unsyiah.ac.id/index.php/index) bisa digunakan. Direktori ini berisikan koleksi open access berbagai macam repository di seluruh dunia, termasuk abstrak dan link full-text dari paper jurnal, konferensi, theses and disertation, research report, dan lain-lain. Adapun cara lainnya adalah melalui website UILIS (www.uilis.unsyiah.ac.id). 
Website UILIS mengandung berbagai konten lokal seperti OPAC, ETD, e-journal, Google UPT. Perpustakaan Unsyiah, Unsyiah Union Catalogue, Open Access, jurnal terakreditasi, serial, e-book, Pustaka TV, ISO 9001:2008, Youtube Pustaka dan Literature Searching Service (Interlibrary Service). Selain itu UILIS juga memuat database elektronik yang dilanggan Unsyiah/Dikti/PNRI dan open access.   



Unsyiah Integrated Library Information System (UILIS)
Sumber: http://www.uilis.unsyiah.ac.id/

Penguatan konten lokal mendapat perhatian serius sejalan dengan visi perpustakaan Unsyiah untuk “MENJADI PUSAT INFORMASI ILMIAH TERKEMUKA DAN BERDAYA SAING DI ASIA TENGGARA PADA TAHUN 2018”. Perpustakaan yang telah mendapatkan akreditasi A dan sertifikat ISO 9001:2008 ini melakukan upaya tersebut karena peminat konten lokal yang cukup besar hingga mendominasi kunjungan ke website unsyiah.ac.id. Konten lokal yang dimaksud terutama adalah http://jurnal.unsyiah.ac.id dan http://etd.unsyiah.ac.id. 
Electronic Thesis and Disertation/ETD (http://etd.unsyiah.ac.id) sebagai salah satu konten lokal yang digemari menawarkan koleksi skripsi/tesis/disertasi serta artikel penelitian dosen dan mahasiswa yang bisa diakses oleh umum. Berbeda dengan universitas lain pada umumnya, konten tersebut bisa dibaca secara keseluruhan via online, bukan hanya abstraknya. Hanya saja, tidak dapat di-download, di-copy-paste atau dicetak. Ini adalah upaya dari kampus untuk mencegah plagiatisme. Jika ingin mendapatkan versi cetak-nya, Anda dapat mengisi formulir online dengan link yang tersedia di masing-masing page koleksi atau langsung saja menuju ke laman http://uilis.unsyiah.ac.id/lss. 
Tak usah khawatir jika Anda berada di luar Banda Aceh karena hardcopy dari rujukan tersebut bisa dikirimkan ke alamat Anda dengan mengganti biaya pengiriman, fotokopi bahan, dan biaya penelusuran.



 Bermain tenis meja di perpustakaan
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/32/

Memasuki era baru, UILIS juga telah tersedia dalam bentuk mobile di Google Play Store (Android). Aplikasi ini memudahkan pengguna searching OPAC, melihat status peminjaman, pengembalian dan denda, menelusuri koleksi bibliography dan full-text, dan lain-lain.


Indian corner
Sumber: Http://library.unsyiah.ac.id/page/36/

Jadi, “Knowledge is free at Unsyiah library”. Anda bisa mengakses jurnal dan konten lokal full-text via online, mempelajari kebudayaan negara lain, belajar seni dan olahraga, belajar berwirausaha, belajar kepemimpinan dan organisasi, belajar berkreasi dan percaya diri, serta hal-hal lain di perpustakaan Unsyiah dengan gratis. Tidak ada alasan lagi bahwa pengetahuan itu mahal. Tidak ada alasan lagi untuk “alergi” perpustakaan. Perpustakaan Unsyiah telah membuktikan bahwa perpustakaan pun bisa dikemas secara menarik. Dengan kemudahan akses terhadap pengetahuan, maka perpustakaan Unsyiah telah turut mendukung Indonesia selangkah lebih maju. Meningkatnya minat baca dan akses terhadap pengetahuan akan menjadikan manusia-manusia Indonesia menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya dan tidak akan kalah dengan bangsa lain. 


Sumber:
Http://library.unsyiah.ac.id
Http://uilis.unsyiah.ac.id
Http://openaccess.unsyiah.ac.id 
Http://news.okezone.com/read/2015/03/17/65/1119973/siswa-malaysia-kagum-lihat-perpustakaan-unsyiah